Friday, October 5, 2012

makalah pantun banjar - STKIP PGRI Banjarmasin




MAKALAH
PANTUN BANJAR




Disusun Oleh :
Muhamad Azhari          : 306 12 11 009
Muhammad Hefni                   : 306 12 11 090
Nuriami Fahrina            : 306 12 11 091
Sri Rahayu Magfirah    : 306 12 11 020
Tira Rahim                              : 306 12 11 076
Wasillah                         : 306 12 11 077                      


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
( S T K I P – P G R I )
BANJARMASIN
2012
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………….. i
DAFTAR ISI………………………………………………. ii

BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang……………………………………… 1
B.     Tujuan Penulisan……………………………………. 1

BAB II PEMBAHASAN
A.    Pantun………………………………………………..
B.     Ciri-ciri Pantun………………………………………
C.     Peran Pantun…………………………………………
D.    Struktur Pantun………………………………………
E.     Jenis Pantun………………………………………….
F.      Ragam Pantun Banjar………………………………..
G.    Tatacara Membuat Pantun…………………………...
H.    Cara Membaca Pantun Banjar……………………….
I.       Tradisi “Batawak Pantun”……………………………
      

BAB III PENUTUP……………………………………………

DAFTAR PUSTAKA

























KATA PENGANTAR

Assalamualaikum, Wr. Wb.

       Pemakalah memanjatkan Puji dan Syukur ke-Hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Karena berkat Rahmat dan Hidayah-Nya pemakalah dapat menyelesaikan penyusunan Makalah ini, yakni dengan judul permasalahan mengenai “Pantun Banjar” dengan tepat waktu.

       Tidak lupa kami ucapkan banyak terima kasih kepada Dosen Pengajar dalam Mata Kuliah Bahasa Banjar. Serta teman-teman yang mendukung atau membantu penyusunan makalah ini.

       Pemakalah menyadari bahwa banyak kekurangan dan kekeliruan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, pemakalah mengharapkan baik kritik maupun saran yang bersifat membangun dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini.

       Akhir kata, pemakalah sangat berharap makalah ini dapat berguna baik bagi pemakalah sendiri maupun pembaca sekalian.

Wassalammualaikum, Wr. Wb.




                                                                                                Banjarmasin,     September 2012





                                                                                                PEMAKALAH
 


















BAB I

  PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

            Di zaman sekarang ini zaman modern atau globalisasi ini pantun sudah mulai terdesak. Orang sudah tidak ingat lagi bahkan tidak ada mempunyai rasa untuk membuat atau melestarikan pantun.

            Masyarakat Banjar tempo dulu (bahari) sangat gemar berpantun sampai sekarang ini. Yang lebih menngembirakan bukan saja orang-orang tua tetapi juga kaula muda Tanah Banjar masih tetap menggemari pantun bahkan akan tetap melestarikannya.

            Sastra daerah Banjar seperti sastra pada umumnya terdiri prosa pada dan puisi pada umumnya. Prosa berupa ceritera rakyat dituturkan turun temurun demikian . Demikian juga puisi lama berupa pantun merupakan tradisi lisan.
zaman sekarang ini zaman modern atau globalisasi ini pantun sudah mulai terdesak. Orang sudah tidak ingat lagi bahkan tidak ada m empunyai rasa untu membuat atau melestarikan pantun.

B.      Tujuan Penulisan

Adapun tujuan pemakalah menyusun makalah yang berjudul “Pantun Banjar” ini adalah:
·         Dapat mengerti dan memahami lebih jauh mengenai Pantun Banjar
·         Mengetahui ciri-ciri tentang sebuah pantun
·         Mengetahui peran serta struktur pantun
·         Dapat melahirkan karya-karya pantu.



















BAB II
PEMBAHASAN

Pantun Banjar

A. Pantun
Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Pantun berasal dari kata patuntun  dalam bahasa Minangkabau yang berarti “petuntun”. Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan, dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan, dan dalam bahasa Batak dikenal sebagai umpasa (baca:uppasa).
Selain itu pantun dapat diartikan sebagai puisi lama yang terikat oleh syarat-syarat tertentu (jumlah baris, jumlah suku kata, kata, persajakan, dan isi). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan, namun sekarang dijumpai juga pantun karmina dan talibun merupakan bentuk kembangan pantun, dalam artian memiliki bagian sampiran dan isi. Karmina merupakan pantun “versi pendek” (hanya dua baris), sedangkan talibun adalah “versi panjang” (enam baris atau lebih).
B. Ciri-ciri Pantun
Ciri-ciri pantun adalah sebagai berikut :
·         Pantun terdiri dari sejumlah baris yang selalu genap yang merupakan satu kesatuan yang disebuat bait/kuplet.
·         Setiap baris terdiri dari empat kata yang dibentuk dari 8-12 suku kata (umumnya 10 suku kata).
·         Separoh bait pertama merupakan sampiran (persiapan memasuki isi pantun), kemudian separoh bait berikutnya merupakan isi (pesan yang mau disampaikan).
C. Peran pantun
a)      Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun Pantun terdiri dari sejumlah baris yang selalu genap, yang merupakan satu kesatuan yang  disebut bait/kuplet
b)      Setiap baris terdiri dari empat kata yang dibentuk dari 8-12 suku kata (umumnya 10 suku kata)
c)      Separoh bait pertama merupakan sampiran (persiapan memasuki isi pantun), separoh bait berikutnya merupakan isi (yang mau disampaikan)
d)     Persajakan antara sampiran dan isi selalu paralel (aa-aa atau ab-ab)
e)      Beralun dua.   
melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih orang berfikir asosiatif, bahwa suatu kata memiliki kaitan dengan kata yang lain.
Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Di kalangan pemuda sekarang. 
D. Struktur Pantun
            Adapun struktur pantun pada umumnya ialah terdiri dari dua baris sampiran dan dua  baris isi. Smpiran merupakan sandaran dan isi merupakan saran misi atau pesan.         
Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengaran memahami isi pantun. Ini dapat dipahami karna pantun merupakan sastra lisan.


E. Jenis-jenis Pantun
·         Berdasarkan bentuk/jumlah baris tiap bait, pantun dibedakan menjadi :
a)      Pantun biasa, yaitu pantun yang terdiri dari empat baris tiap bait
b)      Pantun kilat/karmina, yaitu pantun yang hanya tersusun atas dua baris
c)      Pantun berkait, yaitu pantun yang tersusun secara berangkai, saling mengkait antara bait pertama dan bait berikutnya
d)     Talibun, yaitu pantun  yang terdiri lebih dari empat baris tetapi selalu genap jumlahnya, separoh merupakan sampiran, dan separoh lainnya merupakan isi
e)      Seloka, yaitu pantun yang terdiri dari empat baris sebait tetapi persajakannya datar (aaaa).

·         Berdasarkan isinya, pantun dibedakan menjadi :
a.       Pantun anak-anak
b.      Pantun muda
c.       Pantun tua
d.      Pantun jenaka
e.       Pantun teka-teki
f.       Pantun Pendidikan
F. Ragam Pantun Banjar
Pantun Banjar ada lima ragam :
       I.            Ragam pantun banjar biasa
    II.            Ragam pantun banjar pantun tarasul
 III.            Ragam pantun banjar sebagai lirik lagu atau nyanyian
 IV.            Ragam pantun banjar sebagai pengiring tarian
    V.            Ragam pantun wayahini
I. Ragam Pantun Banjar Biasa
a. Pantun Agama
Pantun agama ini merupakan pantun yang berisi tentang keagamaan (relegiusitas), tuntunan bagaimana menjalankan syariat islam.
Luruk banyu kadalam bulanai
Gasan mangurung si iwak patin
Islam nitu agama nang damai
Damai di lahir damai di batin
b. Pantun Adat Istiadat
Pantun adat istiadat ini adalah ragam pantun yang membimbing atau berupa nasihat agar bertingkah laku, sopan santun, berakhlak yang baik terhadap orang tua, pada seseorang baik terhadap yang muda maupun yang tua, juga dalam tatanan bermasyarakat.
Puhun gambir di dalam hutan
Andaknya di padang sabat
Amun bapandir lawan kuitan
Baucap nitu bagamat-gamat
c. Pantun Badatang (meminang)
a.       Pantun badatang ini berisikan suatu tuntutan menagih janji berupa pinangan pria kepada pihak si perempuan. Kadang kala meminang ini terjadi berbalas pantun antara pihak pria dan pihak perempuannya.


·         Pihak pria :
Apa habar bayan manari
Katutut bajalan malam
Apa habar datang kamari
Manuntut janji samalam

·         Pihak Perempuan :
Katutut basaung buntut
Katutut burung katutut
Lamun ada judu manuntut
Urang tuha bisa mamatut       
d. Baturai pantun                
            Pantun ini adalah pantun bersahut-sahutan atau berbalas pantun. Setelah istirahat melakukan panen padi atau juga kaula muda berkumpul-kumpul di rumah pengantin sebelum atau sesudah acara mempelai bersanding. Juga acara khusus baturai pantun disuatu tempat yang diselenggarakan oleh panitia dalam rangka perayaan baik peringatan hari besar nasional maupun daerah. Baturai pantun dilakukan baik sepasang atau berkelompok.
(A)
Mun mamatuk lakasi sisit
Iwaknya sapat saluang
Jangan pina sasirit-sirit
Mun handak batarus badatang
(B)
Sapat saluang dibawah batang
Di bawah batang takana jarat
Nang kaya apa batarus tarang
Amun muntung ngalih menyambat
(A)
Takana jarat tali paikat
Ganting diawak talulun-lulun
Mun ngalih muntung menyambat
Datang haja ka rumah ulun
(B)
Buah kastela berandak-ramdak
Masak sabigi dimakan musang
Babujuran marasa handak
Tapi takutan ditimpas urang
(A)
Musang pandan makan tiwadak
Habis tiwadak lalu kasturi                                           
Amun bujur-bujur rasa handak
Biar lautan disubarangi
(B)
Makan tiwadak ambil mandainya
Mandai disanga di dalam rinjing
Hati sanang kada sakira
Mandangar ucapan si ading



(A)
Ayam putih tarbang ka jambu
Limbah kajambu ka awan pulang
Kalau handak lawan badan ku
Lakasi haja pian badatang
(B)
Pucuk walah bacabang dua
Dilayapakan kepohon jambu
Sudah judu kita badua
Ancap kita datang kapungulu
e. Pantun Panglipur
Pantun ini berisikan suatu ujaran menghibur seseorang yang sedang gundah gulana atau memberikan semangat dimana seseorang sedang berduka.
Itam-itam tampuk palawi
Kamuning luruh bunganya
Itam-itam lawan panggawi
Putih kuning apa gunanya
d. Pantun Papujian
Pantun ini berisikan pujian terhadap seseorang karena keelokan rupa atau baiknya tingkah laku.
Wadah Pulau alalak malang malintang
Diang-Galuh mancari undang
Mata galak nangkaya bintang
Saparti amas hanyar dituang
e. Pantun Panglipur
            Pantun ini berisikan suatu ujaran mengibur seseorang yang sedang gundah gulana atau memberikan semangat dimana seseorang sedang berduka.
Itam-itam tampuk palawi
Kamuning luruh bunganya
Itam-itam lawan panggawi
Putih kuning apa gunanya
f. Pantun Papujia        
            Pantun ini berisikan pujian terhadap seseorang karena keelokan rupa atau baiknya tingkah laku.
Pulau Alalak malang malintang
Wadah Diang-Galih mancari undang
Mata galak nangkaya bintang
Saparti amas hanyar dituang

g. Pantun balolocoan
Pantun balolocoan adalah pantu yang mana berisikan tentang kelucuan-kelucuan yang menjadikan tertawa.
Amas mirah intan sakindai
Apa diulah didalam wadai
Papanderan pina marudai
Wadai dipiring maka am dahai
 h. Pantun Marista
            Pantun ini berisikan gundah gulananya hati atau sesuatu yang membuat menjadi sedih dan duka. Demikian juga sudah merasakan sudah garisan nasip.

Sapu tangan babuncu ampat
Sabuncunya dimakan api
Luka ditangan kawa dibabat
Luka dihati hancur sakali
i. Pantun Insyaf        
            Pantun ini berisikan seseorang yang telah menyadari kesalahannya selama ini. Dain ia akan memperbaiki kesalahan itu.
Tuan haji babaju balah
Balinjang-linjang diluar kota
Mangaji mamuji Allah
Sambahyang mambuang dosa
j. Pantun Bacucupatian
            Pantun bacucupatian adalah pantun yang berisikan tentak pantun tebak-tebakan atau bisa juga disebut dengan pantun teka-teki.
Ganal-ganal sarang  wanyi     
Sarang didahan katapi suntul
Siapa sidin nang paling wani
Kapala urang rancak ditunjul
k. Pantun Anum Urang
            Pantun ini berisikan tentangg cinta kasih muda mudi.
Karindangan Ungut-ungut burung pialin
Ka kandang  jalan Ka  gambah
Ungut-ungut baparigah garing
Supan bapadah

l. Pantun kakanakan
Pantun kakanakan ini berisikan dunia anak-anak. Seperti sedang bermain dan bersenda gurau. Pantun yang merupakan  bnermain-main ini sering terdapat baris-baris yang unik.  Keunikan ini diluar struktur pada umumnya. Disini terdapat persajakan dimana tersebar pada baris-barisnya.
Jujun-jun alai
Tapatuk burung dilaut
Tatajun ka balai
Katulangan tulang walut

Rawa-rawa puhun manggis
Tatawa sambil manangis

II. Pantun Banjar: Pantun Tarasu; (surat Tarasul)
            Pantun Tarasul adalah suatu bentuk surat berpantun yang berisikan cinta asmara. Seorang pemuda tang jatuh cinta kepada seorang pemudi, maka ia akan mngutarakan isi hatinya dalam lembaran kertas bertulis sebagai pengganti dirinya untuk disampaikan kepada pujaanya.
III. Ragam pantun banjar sebgai lirik lagu atau nyanyian
            Pantun Banjar masih bertahan hidup dalam masyarakat Banjar terutama lirik pantun merupakan lirik lagu-lagu Banjar. Lirik-lirik pantun banjar sebagai lirik lagu yang unik.
IV. Ragam Pantun Banjar Sebagai Pengiring Tarian
            Lagu pantun yang mengiringi tarian Banjar umumnya Berupa Pantun Urang Anum yaitu pantun penrcintaan muda-mudi atau Pantun Nasib.

V. Ragam Pantum Wayahini
            Di dalam masyarakat sekara g ini terutama dikaula Muda Tanah Banjar, pantun mendapat Perkembangan berupa Pantun Modern, Bahasa Banjarnya Pantun Wayahini. Terkadang bahasanya terpengaruh bahasa gaul.
Iwak karing ditanggung kucing
Kucing disipak tapulanting
Biar ulun duitnya karing        
Tapi ulun tatap I love you darling

Mayang pinang taandak tinggi
Naik tangga baingkutann pagar
Kada gampang handak babini 
Mun kadada duit 10M paraya jar      
G. TATA CARA MEMBUAT PANTUN
            a. Dasar penciptaan Pantun Banjar
            Menciptakan pantun pada dasarnya harus lebih dahulu mengetahui dan memahami struktur pantun. Seperti dijelaskan pada tulisan terdahulu bahwa struktur pantun terdiri dari sampiran dan isi.
             Dalam penciptaan sebuah pantun lebih dahulu membuat isinya, sehingga tujuan cipta pantun dapat tercapai. Setelah rampung menciptakan isi pantun, barulah dicari sandarannya (sampirannya). Keadan banyak kata pada isi begitu juga keadaan rimanya harus sepadan.
            b. Gaya Pantun Banjar
            Gaya atau disebut juga dengan stylisasi pantu Banjar tumbuh dari kosa kata Banjar, ejaan dan cara mengucapkan. Dari situ maka munculah ciri khas, yang membedakan dengan pantun daerah lain.
             Gaya psntu Banjar tidak lepas dari gaya brerbahasa “Urang Banjar” yang memuat irama dan dialektisnya. Gaya hanya dapat dirasakan kalau sedang membaca atau mengucapkan.

H. CARA MEMBACA PANTUN BANJAR
            a. Nuansa irama pantun dalam kesenian Banjar
            Pantun dalam kesenian Banjar selalu dibawakan dengan nuansa irama lagu tertentu. Lagu tersebut selalu memperhatikan intonasinya. Misalnya dalam pembukaan madihin.
            b. Kretaria membaca/melisankan pantun.
            Secara umum kriterianya adalah dengan intensitas estetis tata artistik dan keharmonian ucapan. Sedangkan secara khusus ad sebagai berikut:
1.      Kualitas ucapan (Ujaran)
Kualitas ujaran adalah kemampuan vokal yakni melafalkan bunyi ucapan secara tepat, kuat dan jelas merupakan kunci keberhasilan.
2.      Temo
Tempo ialah kelenturan pengaturan bunyi yang tidak selalu tinggi, tidak datar, dan mengatur kapan dia bertempo cepat dan kapan bertempo sedang, juga bertempo lambat.
3.      Ekspresi
Ekspresi adalah pelahiran perasaan dengan cara memberi maksud dan tercermin pada kualitas ucapan, mimik, dan kelenturan tubuh.


4.      Penampilan
Penampilan ialah keluwesan sikap dan kewajaran. Maksudnya pembaca harus tidak demam panggung, tidak mlu dan mampu menguasai dirinya.
I. TRADISI “BATAWAK PANTUN”
            Tradisi yang kuat yang terjadi pada sekolompok petani disuatu desa yakni tradisi Baahui. Baahui adalah kegiatan melerai padi dari tangkainya oleh sekelompok petani berbentuk linkaran dan secara bergantian seorang demi seorang menyanyikan pantun-pantun.
            Tradisi ini segera dipakai oleh para remaja Banjar dengan tujuan pergaulan muda-mudi.  Permainan ini dilakukan oleh 2 kelompok. Dari kelompok pertama seseorang mengirim pantun yang disuport oleh anggotanya. Kelompok rivalnya menjawab dengan pantun terkait. Demikian seterusnya terjadi pantun-pantun berangkai (Berantai).








































BAB III

PENUTUP

       Seperti yang telah  dikemukakan didepan, pantun merupakan tradisi atau kebiasaan masyarakat Banjar. Di Banjar peminat pantun bukan hanya orang tua, tetapi juga para kaula muda.

       Kebiasaan masyarakat Banjar memainkan pantun tidak hanya sekedar untuk permainan dan hiburan semata-mata. Para orang tua juga menasehati keluarganya dengan berpantun dalam suatu kesenian misalnya: Dundam, Lamut,  Madihin dan sebagainya. Tidak hanya itu  di sana pantun juga bisa disambungkan dengan sebuah lirik lagu bahkan para ibu rumah tangga juga memanfaatkan pantun sebagai nyanyian untuk menidurkan anak mereka.