MAKALAH
PANTUN BANJAR
Disusun Oleh :
Muhamad Azhari : 306 12 11 009
Muhammad Hefni : 306 12 11 090
Nuriami Fahrina : 306 12
11 091
Sri Rahayu Magfirah :
306 12
11 020
Tira Rahim :
306 12 11 076
Wasillah : 306 12 11 077
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
( S T K I P – P G R I )
BANJARMASIN
2012
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………….. i
DAFTAR ISI………………………………………………. ii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang……………………………………… 1
B.
Tujuan
Penulisan……………………………………. 1
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pantun………………………………………………..
B.
Ciri-ciri
Pantun………………………………………
C.
Peran
Pantun…………………………………………
D.
Struktur
Pantun………………………………………
E.
Jenis
Pantun………………………………………….
F.
Ragam
Pantun Banjar………………………………..
G.
Tatacara
Membuat Pantun…………………………...
H.
Cara
Membaca Pantun Banjar……………………….
I.
Tradisi
“Batawak Pantun”……………………………
BAB III PENUTUP……………………………………………
DAFTAR PUSTAKA
KATA
PENGANTAR
Assalamualaikum,
Wr. Wb.
Pemakalah memanjatkan Puji dan Syukur
ke-Hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Karena berkat Rahmat dan Hidayah-Nya pemakalah
dapat menyelesaikan penyusunan Makalah ini, yakni dengan judul permasalahan
mengenai “Pantun Banjar” dengan tepat waktu.
Tidak lupa kami ucapkan banyak terima
kasih kepada Dosen Pengajar dalam Mata Kuliah Bahasa Banjar. Serta teman-teman
yang mendukung atau membantu penyusunan makalah ini.
Pemakalah menyadari bahwa banyak
kekurangan dan kekeliruan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu,
pemakalah mengharapkan baik kritik maupun saran yang bersifat membangun dari
pembaca demi penyempurnaan makalah ini.
Akhir kata, pemakalah sangat berharap
makalah ini dapat berguna baik bagi pemakalah sendiri maupun pembaca sekalian.
Wassalammualaikum,
Wr. Wb.
Banjarmasin, September 2012
PEMAKALAH
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di zaman sekarang ini zaman modern
atau globalisasi ini pantun sudah mulai terdesak. Orang sudah tidak ingat lagi
bahkan tidak ada mempunyai rasa untuk membuat atau melestarikan pantun.
Masyarakat
Banjar tempo dulu (bahari) sangat gemar berpantun sampai sekarang ini. Yang
lebih menngembirakan bukan saja orang-orang tua tetapi juga kaula muda Tanah
Banjar masih tetap menggemari pantun bahkan akan tetap melestarikannya.
Sastra
daerah Banjar seperti sastra pada umumnya terdiri prosa pada dan puisi pada
umumnya. Prosa berupa ceritera rakyat dituturkan turun temurun demikian .
Demikian juga puisi lama berupa pantun merupakan tradisi lisan.
zaman sekarang ini zaman modern atau
globalisasi ini pantun sudah mulai terdesak. Orang sudah tidak ingat lagi
bahkan tidak ada m empunyai rasa untu membuat atau melestarikan pantun.
B.
Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan pemakalah menyusun makalah yang berjudul “Pantun Banjar” ini adalah:
·
Dapat
mengerti dan memahami lebih jauh mengenai Pantun Banjar
·
Mengetahui
ciri-ciri tentang sebuah pantun
·
Mengetahui
peran serta struktur pantun
·
Dapat
melahirkan karya-karya pantu.
BAB II
PEMBAHASAN
Pantun Banjar
A. Pantun
Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang
sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Pantun berasal dari kata patuntun dalam bahasa
Minangkabau yang berarti “petuntun”. Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal
sebagai parikan, dalam bahasa
Sunda dikenal sebagai paparikan, dan dalam bahasa Batak
dikenal sebagai umpasa (baca:uppasa).
Selain itu pantun dapat diartikan sebagai puisi lama yang
terikat oleh syarat-syarat tertentu (jumlah baris, jumlah suku kata, kata,
persajakan, dan isi). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan, namun
sekarang dijumpai juga pantun karmina dan talibun merupakan bentuk kembangan
pantun, dalam artian memiliki bagian sampiran dan isi. Karmina merupakan pantun
“versi pendek” (hanya dua baris), sedangkan talibun adalah “versi panjang” (enam
baris atau lebih).
B. Ciri-ciri Pantun
Ciri-ciri pantun adalah sebagai berikut :
·
Pantun terdiri dari sejumlah baris yang selalu genap yang
merupakan satu kesatuan yang disebuat bait/kuplet.
·
Setiap baris terdiri dari empat kata yang dibentuk dari 8-12 suku
kata (umumnya 10 suku kata).
·
Separoh bait pertama merupakan sampiran (persiapan memasuki isi
pantun), kemudian separoh bait berikutnya merupakan isi (pesan yang mau
disampaikan).
C. Peran pantun
a)
Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga
fungsi kata kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun Pantun terdiri dari
sejumlah baris yang selalu genap, yang merupakan satu kesatuan yang disebut bait/kuplet
b)
Setiap baris terdiri dari empat kata yang dibentuk dari 8-12
suku kata (umumnya 10 suku kata)
c)
Separoh bait pertama merupakan sampiran (persiapan memasuki isi
pantun), separoh bait berikutnya merupakan isi (yang mau disampaikan)
d)
Persajakan antara sampiran dan isi selalu paralel (aa-aa atau
ab-ab)
e)
Beralun dua.
melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum
berujar. Ia juga melatih orang berfikir asosiatif, bahwa suatu kata memiliki
kaitan dengan kata yang lain.
Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat,
bahkan hingga sekarang. Di kalangan pemuda sekarang.
D. Struktur Pantun
Adapun struktur pantun pada umumnya
ialah terdiri dari dua baris sampiran dan dua
baris isi. Smpiran merupakan sandaran dan isi merupakan saran misi atau
pesan.
Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama
menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengaran memahami isi pantun.
Ini dapat dipahami karna pantun merupakan sastra lisan.
E. Jenis-jenis
Pantun
·
Berdasarkan bentuk/jumlah baris tiap bait, pantun dibedakan
menjadi :
a)
Pantun biasa, yaitu pantun yang terdiri dari empat baris tiap
bait
b)
Pantun kilat/karmina, yaitu pantun yang hanya tersusun atas dua
baris
c)
Pantun berkait, yaitu pantun yang tersusun secara berangkai,
saling mengkait antara bait pertama dan bait berikutnya
d)
Talibun, yaitu pantun
yang terdiri lebih dari empat baris tetapi selalu genap jumlahnya,
separoh merupakan sampiran, dan separoh lainnya merupakan isi
e)
Seloka, yaitu pantun yang terdiri dari empat baris sebait tetapi
persajakannya datar (aaaa).
·
Berdasarkan isinya, pantun dibedakan menjadi :
a.
Pantun anak-anak
b.
Pantun muda
c.
Pantun tua
d.
Pantun jenaka
e.
Pantun teka-teki
f.
Pantun Pendidikan
F. Ragam Pantun Banjar
Pantun Banjar ada lima ragam :
I.
Ragam pantun banjar biasa
II.
Ragam pantun banjar pantun tarasul
III.
Ragam pantun banjar sebagai lirik lagu atau nyanyian
IV.
Ragam pantun banjar sebagai pengiring tarian
V.
Ragam pantun wayahini
I. Ragam Pantun
Banjar Biasa
a. Pantun Agama
Pantun
agama ini merupakan pantun yang berisi tentang keagamaan (relegiusitas),
tuntunan bagaimana menjalankan syariat islam.
Luruk banyu kadalam bulanai
Gasan mangurung si
iwak patin
Islam nitu agama
nang damai
Damai di lahir damai di batin
b. Pantun Adat Istiadat
Pantun
adat istiadat ini adalah ragam pantun yang membimbing atau berupa nasihat agar
bertingkah laku, sopan santun, berakhlak yang baik terhadap orang tua, pada
seseorang baik terhadap yang muda maupun yang tua, juga dalam tatanan
bermasyarakat.
Puhun gambir di dalam hutan
Andaknya di padang
sabat
Amun bapandir lawan
kuitan
Baucap nitu bagamat-gamat
c. Pantun Badatang (meminang)
a.
Pantun badatang ini berisikan suatu tuntutan menagih janji
berupa pinangan pria kepada pihak si perempuan. Kadang kala meminang ini
terjadi berbalas pantun antara pihak pria dan pihak perempuannya.
·
Pihak pria :
Apa habar bayan
manari
Katutut bajalan
malam
Apa habar datang
kamari
Manuntut janji
samalam
·
Pihak Perempuan :
Katutut basaung
buntut
Katutut burung
katutut
Lamun ada judu
manuntut
Urang tuha bisa
mamatut
d. Baturai pantun
Pantun ini adalah pantun
bersahut-sahutan atau berbalas pantun. Setelah istirahat melakukan panen padi
atau juga kaula muda berkumpul-kumpul di rumah pengantin sebelum atau sesudah
acara mempelai bersanding. Juga acara khusus baturai pantun disuatu tempat yang
diselenggarakan oleh panitia dalam rangka perayaan baik peringatan hari besar
nasional maupun daerah. Baturai pantun dilakukan baik sepasang atau
berkelompok.
(A)
Mun mamatuk lakasi
sisit
Iwaknya sapat
saluang
Jangan pina
sasirit-sirit
Mun handak batarus
badatang
(B)
Sapat saluang
dibawah batang
Di bawah batang
takana jarat
Nang kaya apa
batarus tarang
Amun muntung ngalih
menyambat
(A)
Takana jarat tali
paikat
Ganting diawak
talulun-lulun
Mun ngalih muntung
menyambat
Datang haja ka rumah
ulun
(B)
Buah kastela
berandak-ramdak
Masak sabigi dimakan
musang
Babujuran marasa
handak
Tapi takutan
ditimpas urang
(A)
Musang pandan makan
tiwadak
Habis tiwadak lalu
kasturi
Amun bujur-bujur
rasa handak
Biar lautan
disubarangi
(B)
Makan tiwadak ambil
mandainya
Mandai disanga di
dalam rinjing
Hati sanang kada
sakira
Mandangar ucapan si
ading
(A)
Ayam putih tarbang
ka jambu
Limbah kajambu ka
awan pulang
Kalau handak lawan
badan ku
Lakasi haja pian
badatang
(B)
Pucuk walah bacabang
dua
Dilayapakan kepohon
jambu
Sudah judu kita
badua
Ancap kita datang kapungulu
e. Pantun Panglipur
Pantun ini berisikan suatu ujaran menghibur seseorang
yang sedang gundah gulana atau memberikan semangat dimana seseorang sedang
berduka.
Itam-itam tampuk palawi
Kamuning luruh
bunganya
Itam-itam lawan
panggawi
Putih kuning apa gunanya
d. Pantun Papujian
Pantun ini berisikan pujian terhadap seseorang karena
keelokan rupa atau baiknya tingkah laku.
Wadah Pulau alalak malang malintang
Diang-Galuh mancari undang
Mata galak nangkaya bintang
Saparti amas hanyar dituang
e.
Pantun Panglipur
Pantun
ini berisikan suatu ujaran mengibur seseorang yang sedang gundah gulana atau
memberikan semangat dimana seseorang sedang berduka.
Itam-itam tampuk palawi
Kamuning luruh bunganya
Itam-itam lawan panggawi
Putih kuning apa gunanya
f. Pantun Papujia
Pantun
ini berisikan pujian terhadap seseorang karena keelokan rupa atau baiknya
tingkah laku.
Pulau Alalak malang malintang
Wadah Diang-Galih mancari undang
Mata galak nangkaya bintang
Saparti amas hanyar dituang
g.
Pantun balolocoan
Pantun balolocoan
adalah pantu yang mana berisikan tentang kelucuan-kelucuan yang menjadikan
tertawa.
Amas mirah intan sakindai
Apa diulah didalam
wadai
Papanderan pina
marudai
Wadai dipiring maka am dahai
h. Pantun Marista
Pantun ini berisikan gundah
gulananya hati atau sesuatu yang membuat menjadi sedih dan duka. Demikian juga
sudah merasakan sudah garisan nasip.
Sapu tangan babuncu ampat
Sabuncunya dimakan
api
Luka ditangan kawa
dibabat
Luka dihati hancur sakali
i.
Pantun Insyaf
Pantun
ini berisikan seseorang yang telah menyadari kesalahannya selama ini. Dain ia
akan memperbaiki kesalahan itu.
Tuan haji babaju balah
Balinjang-linjang
diluar kota
Mangaji mamuji Allah
Sambahyang mambuang dosa
j.
Pantun Bacucupatian
Pantun bacucupatian adalah pantun
yang berisikan tentak pantun tebak-tebakan atau bisa juga disebut dengan pantun
teka-teki.
Ganal-ganal sarang wanyi
Sarang didahan katapi suntul
Siapa sidin nang paling wani
Kapala urang rancak ditunjul
k. Pantun Anum Urang
Pantun ini berisikan tentangg cinta
kasih muda mudi.
Karindangan Ungut-ungut burung pialin
Ka kandang jalan Ka gambah
Ungut-ungut baparigah garing
Supan bapadah
l. Pantun kakanakan
Pantun kakanakan ini berisikan dunia anak-anak.
Seperti sedang bermain dan bersenda gurau. Pantun yang merupakan bnermain-main ini sering terdapat baris-baris
yang unik. Keunikan ini diluar struktur
pada umumnya. Disini terdapat persajakan dimana tersebar pada baris-barisnya.
Jujun-jun alai
Tapatuk burung dilaut
Tatajun ka balai
Katulangan tulang walut
Rawa-rawa puhun manggis
Tatawa sambil manangis
II.
Pantun Banjar: Pantun Tarasu; (surat Tarasul)
Pantun Tarasul adalah suatu
bentuk surat berpantun yang berisikan cinta asmara. Seorang pemuda tang jatuh
cinta kepada seorang pemudi, maka ia akan mngutarakan isi hatinya dalam
lembaran kertas bertulis sebagai pengganti dirinya untuk disampaikan kepada
pujaanya.
III.
Ragam pantun banjar sebgai lirik lagu atau nyanyian
Pantun Banjar masih bertahan
hidup dalam masyarakat Banjar terutama lirik pantun merupakan lirik lagu-lagu
Banjar. Lirik-lirik pantun banjar sebagai lirik lagu yang unik.
IV.
Ragam Pantun Banjar Sebagai Pengiring Tarian
Lagu pantun yang mengiringi
tarian Banjar umumnya Berupa Pantun Urang Anum yaitu pantun penrcintaan
muda-mudi atau Pantun Nasib.
V. Ragam
Pantum Wayahini
Di dalam masyarakat sekara g ini
terutama dikaula Muda Tanah Banjar, pantun mendapat Perkembangan berupa Pantun
Modern, Bahasa Banjarnya Pantun Wayahini. Terkadang bahasanya terpengaruh
bahasa gaul.
Iwak karing ditanggung kucing
Kucing disipak
tapulanting
Biar ulun duitnya
karing
Tapi ulun tatap I
love you darling
Mayang pinang
taandak tinggi
Naik tangga
baingkutann pagar
Kada gampang handak
babini
Mun kadada duit 10M paraya jar
G. TATA
CARA MEMBUAT PANTUN
a. Dasar penciptaan Pantun Banjar
Menciptakan pantun pada dasarnya
harus lebih dahulu mengetahui dan memahami struktur pantun. Seperti dijelaskan
pada tulisan terdahulu bahwa struktur pantun terdiri dari sampiran dan isi.
Dalam penciptaan sebuah pantun lebih dahulu
membuat isinya, sehingga tujuan cipta pantun dapat tercapai. Setelah rampung
menciptakan isi pantun, barulah dicari sandarannya (sampirannya). Keadan banyak
kata pada isi begitu juga keadaan rimanya harus sepadan.
b.
Gaya Pantun Banjar
Gaya atau disebut juga dengan
stylisasi pantu Banjar tumbuh dari kosa kata Banjar, ejaan dan cara
mengucapkan. Dari situ maka munculah ciri khas, yang membedakan dengan pantun
daerah lain.
Gaya psntu Banjar tidak lepas dari gaya
brerbahasa “Urang Banjar” yang memuat irama dan dialektisnya. Gaya hanya dapat
dirasakan kalau sedang membaca atau mengucapkan.
H. CARA MEMBACA PANTUN BANJAR
a.
Nuansa irama pantun dalam kesenian Banjar
Pantun dalam kesenian Banjar selalu
dibawakan dengan nuansa irama lagu tertentu. Lagu tersebut selalu memperhatikan
intonasinya. Misalnya dalam pembukaan madihin.
b.
Kretaria membaca/melisankan pantun.
Secara umum kriterianya adalah
dengan intensitas estetis tata artistik dan keharmonian ucapan. Sedangkan
secara khusus ad sebagai berikut:
1.
Kualitas ucapan
(Ujaran)
Kualitas ujaran adalah
kemampuan vokal yakni melafalkan bunyi ucapan secara tepat, kuat dan jelas
merupakan kunci keberhasilan.
2.
Temo
Tempo ialah kelenturan
pengaturan bunyi yang tidak selalu tinggi, tidak datar, dan mengatur kapan dia
bertempo cepat dan kapan bertempo sedang, juga bertempo lambat.
3.
Ekspresi
Ekspresi adalah
pelahiran perasaan dengan cara memberi maksud dan tercermin pada kualitas
ucapan, mimik, dan kelenturan tubuh.
4.
Penampilan
Penampilan ialah keluwesan sikap
dan kewajaran. Maksudnya pembaca harus tidak demam panggung, tidak mlu dan
mampu menguasai dirinya.
I. TRADISI “BATAWAK PANTUN”
Tradisi yang kuat yang terjadi pada
sekolompok petani disuatu desa yakni tradisi Baahui. Baahui adalah kegiatan
melerai padi dari tangkainya oleh sekelompok petani berbentuk linkaran dan
secara bergantian seorang demi seorang menyanyikan pantun-pantun.
Tradisi ini segera dipakai oleh para
remaja Banjar dengan tujuan pergaulan muda-mudi. Permainan ini dilakukan oleh 2 kelompok. Dari
kelompok pertama seseorang mengirim pantun yang disuport oleh anggotanya.
Kelompok rivalnya menjawab dengan pantun terkait. Demikian seterusnya terjadi
pantun-pantun berangkai (Berantai).
BAB III
PENUTUP
Seperti yang telah dikemukakan didepan, pantun merupakan tradisi
atau kebiasaan masyarakat Banjar. Di Banjar peminat pantun bukan hanya orang
tua, tetapi juga para kaula muda.
Kebiasaan masyarakat Banjar memainkan
pantun tidak hanya sekedar untuk permainan dan hiburan semata-mata. Para orang
tua juga menasehati keluarganya dengan berpantun dalam suatu kesenian misalnya:
Dundam, Lamut, Madihin dan sebagainya. Tidak hanya
itu di sana pantun juga bisa
disambungkan dengan sebuah lirik lagu bahkan para ibu rumah tangga juga
memanfaatkan pantun sebagai nyanyian untuk menidurkan anak mereka.

No comments:
Post a Comment